Bekerja tanpa batas waktu

<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="-webkit-font-kerning: none;"><font face="Verdana">Di sebuah kantor pusat perusahaan yang menempati 2 lantai di sebuah gedung perkantoran… Dietor —sang CEO, suka berjalan ke lorong-lorong ruang kantor di kala waktu-waktu tertentu terutama setelah makan siang ataupun menjelang jam 17.00 hingga setelah magrib. Semua staf dan manajer kantor mengira bahwa Dietor berkeiiling dalam rangka untuk menemui salah satu manajer, staf, atau direksi untuk melakukan diskusi non formal tentang topik-topik tertentu. Namun setelah sekian lama diperhatikan ternyata si Dieter tidak sekedar melakukan diskusi non formal dengan salah satu staf, manajer, ataupun direksi namun Dietor melakukan absensi secara berkala ke masing-masing ruang staf dan manajer. </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Absensi yang dilakukan bisa diketahui karena dalam beberapa kesempatan si Dietor menyampaikan daftar absensi secara lisan tentang sejumlah staf ataupun manajer yang ada di kantor: si A seringkali nggak ada di tempat di jam sekian-kian… si B  selalu menghilang tepat jam sekian, si C selalu ada di tempat hingga usai magrib, si D bla-bla-bla-bla, dan seterusnya. Info tentang absensi tersebut disampaikan ke sejumlah atasan staf dan manajer yang terlihat oleh dirinya tidak di tempat. Pada awalnya sejumlah atasan tertentu mengira apa yang disampaikan Dietor hanyalah sebaga candaan saja namun dilain kesempatan hal ini menjadi serius saat Dieter memberikan penilaian tambahan atas orang-orang tersebut. Si B ini kinerjanya bagus namun sayang si B selalu teng-go (pulang tepat waktu), coba kalau dia memberikan ekstra waktu di kantor… itu akan jauh lebih baik. si C walaupun kinerjanya biasa-biasa saja namun dia selalu bekerja ekstra makanya jauh lebih lama berada di kantor. Si A…bla-bla-bla-bla…. saya jauh lebih senang seperti C, mau bekerja ekstra hingga pulangnya selalu lebih belakangan dibanding lainnya.  </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Sekilas bisa dikatakan bahwa Dietor menilai karyawannya berbasiskan waktu yang dipakai karyawan dalam bekerja. Semakin banyak waktu yang dipakai karyawan untuk bekerja maka akan semakin baik. Bagi Dietor, karyawan yang berkomitmen adalah karyawan yang banyak menghabiskan waktunya di kantor. Semakin malam waktu kepulangan karyawan maka akan semakin baiklah karyawan di mata dirinya. Dietor menuntut karyawannya agar bekerja tidak mengenal waktu.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Dietor tidaklah sendirian. Ada atasan yang memiliki jabatan sebagai direksi bercerita kepada bawahannya di salah satu forum tak resmi: <i>Saya habis berkunjung ke kantor kita yang ada di Filipina. Saya perhatikan banyak diantara mereka yang terus bekerja hingga malam hari. Mereka pulang dari kantor hingga malam makin larut. Saya tanya mereka, kenapa sebagian besar pulangnya malam-malam. Merekapun mengatakan bahwa hal ini tak lepas dari sengitnya kompetisi yang ada. Kalau kami tidak bekerja lembur maka banyak hal yang lepas dari perhatian kami dan ini menyebabkan kami tertinggal dari kompetisi</i>. Direksi tersebut sebetulnya secara implisit memberikan himbauan ke anak buahnya agar mereka juga melakukan hal yang sama agar bisa memenangkan kompetisi. </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Sebagai pimpinan, boleh-boleh saja berprinsip sebagaimana tersebut diatas. Namun anda harus berhati-hati, bisa-bisa anda akan dikelilingin karyawan yang juga berprinsip yang penting terlihat di kantor terus menerus dan seolah-olah terus bekerja padahal di kantor lebih sering main <i>game</i>, ngrumpi yang tidak perlu, dan melakukan aktivitas-aktivitas yang sebetulnya kurang relevan dengan pekerjaannya.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Dalam kasus yang berbeda, sering kita ketemukan ritualitas kegiatan kantor yang luar biasa soal pemanfaatan waktu. Rapat yang dilakukan manajer dan pimpinannya lebih sering berakhir hingga larut malam, semakin malam berakhirnya maka akan semakin membanggakan karena hal tersebut sebagai bentuk representasi kerja keras yang telah mereka lakukan. Diantara mereka harus berjuang keras untuk tidak ngantuk, barangsiapa yang mengantuk maka akan dikutuk dan diberi label: bukan pekerja keras serta tidak layak berada dalam tim. </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Terjadilah perlombaan dari rapat satu ke rapat, rapat mana yang paling malam berakhirnya. Rona kebanggaan begitu membuncah di wajah-wajah mereka yang berhasil mengakhiri rapat paling malam, padahal mata mereka sudah berwarna merah sebagai pertanda menahan kantuk yang cukup lama, rambut sudah tidak rapi, sebagian baju sudah keluar dari celana, dan senyum yang munculpun adalah senyum yang mewakili kelelahan yang amat sangat.  Apakah dalam kondisi tersebut bisa dijamin kualitas keputusan yang diambil keputusan terbaik ? Apakah dalam kondisi tersebut peserta rapat bisa membaca permasalahan yang dihadapi secara jernih ? Apakah dalam kondisi seperti ini peserta rapat bisa berkonsentrasi dengan baik ? </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Ada satu penelitian untuk mengetahui hubungan antara kelelahan dan tindakan yang diharapkan dari karyawan. Di sebuah rumah sakit karyawan diwajibkan untuk selalu membasuh tangannya dengan sabun pembersih tangan sebelum melakukan kerjaan/tindakan tertentu. Namun apa yang terjadi ? Ternyata karyawan yang terus menerus bekerja dalam waktu yang lama, mereka tidak lagi peduli tentang cuci tangan. Kepatuhan mereka untuk cuci tangan menurun drastis saat mereka terus menerus bekerja, padahal cuci tangan adalah salah satu tindakan yang sebaiknya dilakukan di lingkungan yang membutuhan sterilitas. </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Bisa dikatakan kualitas pengambilan keputusan seseorang cenderung menurun drastis saat dirinya dalam kondisi lelah karena terus menerus bekerja tanpa henti. Bagaimana mungkin memiliki karyawan yang fokus, mudah beradaptasi, kreatif dan inovatif, kolaboratif, secara emosional bisa menjaga keseimbangan hidup, dan sekaligus produktif bila karyawan terus menerus berada dalam kondisi kelelahan ? Besi dan baja saja memiliki titik lelahnya saat terus menerus dipakai bekerja, apalagi manusia ?</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Ingat bahwa menurut Kahneman, aktivitas otak manusia terbagi menjadi 2 sistem yang saling komplementer satu dengan lainnya yakni sistem terkontrol dan sistem otomatis atau instingtif. Sistem terkontrol terkait dengan kemampuan olah pikir dan kemampuan kontrol diri. Sistem terkontrol berkaitan dengan kemampuan fokus seseorang, kemampuan adaptasi, kemampuan berpikir inovatif dan kreatif, kemampuan membaca situasi, dan kemampuan pemecahan masalah. Sementara sistem otomatis terkait dengan pengulangan terhadap apa yang biasanya dilakukan, dengan demikian sistem otomatis sangat berkaitan dengan rutinitas. Non katanya, aktivitas sistem terkontrol memiliki rentang waktu bekerja yang cukup pendek dan bila sudah melewati batasnya maka sistem ini tidak berjalan lagi sehingga diambil alih oleh sistem otomatis.  </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Dengan demikian bila seseorang bekerja tanpa mengenal batas waktu maka bisa dipastikan bahwa kondisi ini akan mendorong aktivitas sistem otomatis otak mengambil alih. Dan bila sistem otomatis otak seseorang bekerja maka orang tersebut akan melakukan sesuatu yang sudah seringkali dikerjakannya, dengan kata lain orang tersebut akan melakukan sesuatu yang rutin dilakukan dan pada akhirnya pengelolan proses kerja dominan bernuansakan <i>business as usual</i>.  </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="-webkit-font-kerning: none;"><font face="Verdana">Bagaimanakah nuansa pengelolaan kerja di linkup kantor anda saat ini ? Sersan-kah ?  Terdapat nuansa serius namun juga diselingi nuansa santai ataupun nuansa santai yang diselingi nuansa serius… ataukah nuansa pengelolaan kerja di tempat anda dillingkupi dengan nuansa ketegangan yang tidak pernah berhenti dan dipenuhi dengan kepura-puraan dalam bekerja ? Pernahkan anda melakukan evaluasi efek bekerja sersan dengan bekerja yang terus menerus dan penuh ketegangan ? Apakah keduanya menghasilkan produktivitas dan kohesivitas yang sama ? Dan bagaimana pula pengaruhnya terhadap kehidupan pribadi anda ?</font></span></p>

Di sebuah kantor pusat perusahaan yang menempati 2 lantai di sebuah gedung perkantoran… Dietor —sang CEO, suka berjalan ke lorong-lorong ruang kantor di kala waktu-waktu tertentu terutama setelah makan siang ataupun menjelang jam 17.00 hingga setelah magrib. Semua staf dan manajer kantor mengira bahwa Dietor berkeiiling dalam rangka untuk menemui salah satu manajer, staf, atau direksi untuk melakukan diskusi non formal tentang topik-topik tertentu. Namun setelah sekian lama diperhatikan ternyata si Dieter tidak sekedar melakukan diskusi non formal dengan salah satu staf, manajer, ataupun direksi namun Dietor melakukan absensi secara berkala ke masing-masing ruang staf dan manajer. 

Absensi yang dilakukan bisa diketahui karena dalam beberapa kesempatan si Dietor menyampaikan daftar absensi secara lisan tentang sejumlah staf ataupun manajer yang ada di kantor: si A seringkali nggak ada di tempat di jam sekian-kian… si B  selalu menghilang tepat jam sekian, si C selalu ada di tempat hingga usai magrib, si D bla-bla-bla-bla, dan seterusnya. Info tentang absensi tersebut disampaikan ke sejumlah atasan staf dan manajer yang terlihat oleh dirinya tidak di tempat. Pada awalnya sejumlah atasan tertentu mengira apa yang disampaikan Dietor hanyalah sebaga candaan saja namun dilain kesempatan hal ini menjadi serius saat Dieter memberikan penilaian tambahan atas orang-orang tersebut. Si B ini kinerjanya bagus namun sayang si B selalu teng-go (pulang tepat waktu), coba kalau dia memberikan ekstra waktu di kantor… itu akan jauh lebih baik. si C walaupun kinerjanya biasa-biasa saja namun dia selalu bekerja ekstra makanya jauh lebih lama berada di kantor. Si A…bla-bla-bla-bla…. saya jauh lebih senang seperti C, mau bekerja ekstra hingga pulangnya selalu lebih belakangan dibanding lainnya.  

Sekilas bisa dikatakan bahwa Dietor menilai karyawannya berbasiskan waktu yang dipakai karyawan dalam bekerja. Semakin banyak waktu yang dipakai karyawan untuk bekerja maka akan semakin baik. Bagi Dietor, karyawan yang berkomitmen adalah karyawan yang banyak menghabiskan waktunya di kantor. Semakin malam waktu kepulangan karyawan maka akan semakin baiklah karyawan di mata dirinya. Dietor menuntut karyawannya agar bekerja tidak mengenal waktu.

Dietor tidaklah sendirian. Ada atasan yang memiliki jabatan sebagai direksi bercerita kepada bawahannya di salah satu forum tak resmi: Saya habis berkunjung ke kantor kita yang ada di Filipina. Saya perhatikan banyak diantara mereka yang terus bekerja hingga malam hari. Mereka pulang dari kantor hingga malam makin larut. Saya tanya mereka, kenapa sebagian besar pulangnya malam-malam. Merekapun mengatakan bahwa hal ini tak lepas dari sengitnya kompetisi yang ada. Kalau kami tidak bekerja lembur maka banyak hal yang lepas dari perhatian kami dan ini menyebabkan kami tertinggal dari kompetisi. Direksi tersebut sebetulnya secara implisit memberikan himbauan ke anak buahnya agar mereka juga melakukan hal yang sama agar bisa memenangkan kompetisi. 

Sebagai pimpinan, boleh-boleh saja berprinsip sebagaimana tersebut diatas. Namun anda harus berhati-hati, bisa-bisa anda akan dikelilingin karyawan yang juga berprinsip yang penting terlihat di kantor terus menerus dan seolah-olah terus bekerja padahal di kantor lebih sering main game, ngrumpi yang tidak perlu, dan melakukan aktivitas-aktivitas yang sebetulnya kurang relevan dengan pekerjaannya.


Dalam kasus yang berbeda, sering kita ketemukan ritualitas kegiatan kantor yang luar biasa soal pemanfaatan waktu. Rapat yang dilakukan manajer dan pimpinannya lebih sering berakhir hingga larut malam, semakin malam berakhirnya maka akan semakin membanggakan karena hal tersebut sebagai bentuk representasi kerja keras yang telah mereka lakukan. Diantara mereka harus berjuang keras untuk tidak ngantuk, barangsiapa yang mengantuk maka akan dikutuk dan diberi label: bukan pekerja keras serta tidak layak berada dalam tim. 

Terjadilah perlombaan dari rapat satu ke rapat, rapat mana yang paling malam berakhirnya. Rona kebanggaan begitu membuncah di wajah-wajah mereka yang berhasil mengakhiri rapat paling malam, padahal mata mereka sudah berwarna merah sebagai pertanda menahan kantuk yang cukup lama, rambut sudah tidak rapi, sebagian baju sudah keluar dari celana, dan senyum yang munculpun adalah senyum yang mewakili kelelahan yang amat sangat.  Apakah dalam kondisi tersebut bisa dijamin kualitas keputusan yang diambil keputusan terbaik ? Apakah dalam kondisi tersebut peserta rapat bisa membaca permasalahan yang dihadapi secara jernih ? Apakah dalam kondisi seperti ini peserta rapat bisa berkonsentrasi dengan baik ? 

Ada satu penelitian untuk mengetahui hubungan antara kelelahan dan tindakan yang diharapkan dari karyawan. Di sebuah rumah sakit karyawan diwajibkan untuk selalu membasuh tangannya dengan sabun pembersih tangan sebelum melakukan kerjaan/tindakan tertentu. Namun apa yang terjadi ? Ternyata karyawan yang terus menerus bekerja dalam waktu yang lama, mereka tidak lagi peduli tentang cuci tangan. Kepatuhan mereka untuk cuci tangan menurun drastis saat mereka terus menerus bekerja, padahal cuci tangan adalah salah satu tindakan yang sebaiknya dilakukan di lingkungan yang membutuhan sterilitas. 

Bisa dikatakan kualitas pengambilan keputusan seseorang cenderung menurun drastis saat dirinya dalam kondisi lelah karena terus menerus bekerja tanpa henti. Bagaimana mungkin memiliki karyawan yang fokus, mudah beradaptasi, kreatif dan inovatif, kolaboratif, secara emosional bisa menjaga keseimbangan hidup, dan sekaligus produktif bila karyawan terus menerus berada dalam kondisi kelelahan ? Besi dan baja saja memiliki titik lelahnya saat terus menerus dipakai bekerja, apalagi manusia ?

Ingat bahwa menurut Kahneman, aktivitas otak manusia terbagi menjadi 2 sistem yang saling komplementer satu dengan lainnya yakni sistem terkontrol dan sistem otomatis atau instingtif. Sistem terkontrol terkait dengan kemampuan olah pikir dan kemampuan kontrol diri. Sistem terkontrol berkaitan dengan kemampuan fokus seseorang, kemampuan adaptasi, kemampuan berpikir inovatif dan kreatif, kemampuan membaca situasi, dan kemampuan pemecahan masalah. Sementara sistem otomatis terkait dengan pengulangan terhadap apa yang biasanya dilakukan, dengan demikian sistem otomatis sangat berkaitan dengan rutinitas. Non katanya, aktivitas sistem terkontrol memiliki rentang waktu bekerja yang cukup pendek dan bila sudah melewati batasnya maka sistem ini tidak berjalan lagi sehingga diambil alih oleh sistem otomatis.  

Dengan demikian bila seseorang bekerja tanpa mengenal batas waktu maka bisa dipastikan bahwa kondisi ini akan mendorong aktivitas sistem otomatis otak mengambil alih. Dan bila sistem otomatis otak seseorang bekerja maka orang tersebut akan melakukan sesuatu yang sudah seringkali dikerjakannya, dengan kata lain orang tersebut akan melakukan sesuatu yang rutin dilakukan dan pada akhirnya pengelolan proses kerja dominan bernuansakan business as usual.  

Bagaimanakah nuansa pengelolaan kerja di linkup kantor anda saat ini ? Sersan-kah ?  Terdapat nuansa serius namun juga diselingi nuansa santai ataupun nuansa santai yang diselingi nuansa serius… ataukah nuansa pengelolaan kerja di tempat anda dillingkupi dengan nuansa ketegangan yang tidak pernah berhenti dan dipenuhi dengan kepura-puraan dalam bekerja ? Pernahkan anda melakukan evaluasi efek bekerja sersan dengan bekerja yang terus menerus dan penuh ketegangan ? Apakah keduanya menghasilkan produktivitas dan kohesivitas yang sama ? Dan bagaimana pula pengaruhnya terhadap kehidupan pribadi anda ?



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.