Uang hantu dimakan syetan

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, Geneva, sans-serif;">Ihsan Ramcho adalah seorang yang humoris dan supel terhadap siapapun. Tidaklah mengherankan jika Ramcho mudah masuk ke dalam lingkungan manapun. Bila Ramcho bertemu dengan seseorang yang baru dikenal, dalam hitungan jam bisa dipastikan Ramcho akan membuat si teman baru ini terbahak-bahak. Ramcho cepat sekali membuat suasana menjadi cair. Siapapun yang bertemu Ramcho pasti akan merasa cocok dan seolah-olah telah bertemu kawan akrab yang sudah lama tak berjumpa. Profil Ramcho memang sangat menyenangkan: heboh, setia kawan, mudah diajak kemana-mana, penuh pengertian, tidak pelit, memiliki banyak hobi, memiliki banyak lelucon, dan segudang hal lainnya yang amat menghibur. Tidak mengherankan jika Ramcho selalu menjadi pusat perhatian dimanapun dirinya berada. Disamping itu Ramcho juga dikenal sebagai anak dari kalangan yang berada. Orang tuanya memiliki aset yang tersebar dimana-mana.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Profil Ramcho tersebut membuat dirinya diidamkan oleh banyak wanita. Ramcho memiliki banyak relasi dengan wanita cantik saat menempuh jalur pendidikan universitasnya. Namun demikian hanya satu orang saja yang pada akhirnya membuat dirinya tergila-gila yakni si Namsalia. Namsalia adalah gadis cantik berhidung mancung dengan tubuh langsing semampai. Namsalia adalah tipikal gadis lugu, baik budi, tidak neko-neko, berpola pikir sederhana, tidak banyak permintaan, selalu mengumbar senyum disetiap kesempatan, dan suka bermanja-manja. </span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Ramcho tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk melakukan pdkt ke Namsalia. Namsalia begitu cepat tertarik pada Ramcho hingga mereka berdua akhirnya saling menyatakan cinta. Akhirnya tidak lama kemudian mereka berdua berhasil membina rumah tangga yang harmonis dan dikarunia anak-anak yang ganteng dan manis-manis. </span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Sifat Ramcho yang begitu mempesona siapapun membuatnya mudah membangun jejaring pertemana dengan siapapun. Namun sayangya Ramcho terlalu asyik bersosialisasi hingga masa kuliahnya berlarut-larut penyelesainnya, sementara sahabat-sahatab satu angkatan sudah berkarir di berbagai tempat. Untunglah Ramcho memiliki orangtua yang berkecukupan hingga kehidupan dirinya dan keluarganya tercukupi. </span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Diantara sekian banyak sahabat yang dimiliki Ramcho, ada satu sahabat Ramcho yang spesial yakni bernama Sokran. Sebetulnya Sokran adalah tipe sahabat yang amat menjengkelkan bagi Ramcho. Bagaimana tidak menjengkelkan ? Setiap bertemu, Ramcho selalu mendapatkan rentetan pertanyaan untuk dirinya: <em>Ramcho… hingga sampai kapan engkau akan terus kuliah ? Tidak risih-kah dirimu disebut mahasiswa abadi ? Walaupun hidupmu dan keluargamu saat ini tercukupi karena adanya dukungan dana yang berlimpah dari orang tuamu namun  akankah selamanya akan seperti ini ? Kapan engkau bisa mandiri ? Apa hebatnya engkau bersosialisasi namun ternyata belum mampu mandiri seutuhnya ? Walaupun aset dan duit orang tuamu cukup banyak namin orang tua-mu sudah pensiun, apakah dirimu akan terus mengandalkan mereka dalam roda kehidupanmu ? </em>Berbagai rentetan pertanyaan Sokran membuat Ramcho tercekat dan terdiam tak berkutik. Di kala tertentu, Ramcho hanya bisa melotot pada Sokran sebagai tanda protes atas kebawelan Sokran namun jauh di lubuk hatinya… Ramcho membenarkan segala kebawelan Sokran. Oleh karenanya disaat-saat tertentu Ramcho merindukan kehadiran Sokran. </span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Sebetulnya Ramcho hampir aja terkena DO dari masa perkuliahannya namun di tengah situasi yang kritis tersebut… Ramcho mendapatkan bantuan dari seorang dosen dan dekan fakultasnya. Berkat bantuan tersebut akhirnya Ramcho-pun bisa menyelesaikan masa kuliahnya. Di usia yang sudah tidak muda lagi, mulailah Ramcho berburu mencari kerja. Ramcho-pun mendapati kenyataan bahwa di sejumlah tempat dia melamar terdapat beberapa teman seangkatan yang sudah menjadi Bos dan tentunya akan menjadi salah satu Bosnya bila Ramcho diterima di tempat tersebut. Situasi tersebut membuat dirinya merasa jengah dan malu hingga akhirnya Ramcho-pun memutuskan untuk mencari kerja di tempat lain yang tidak ada teman seangkatannya. </span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Ramcho sebetulnya lebih suka membangun bisnis sendiri daripada harus bekerja di perusahaan. Di tengah amburadulnya menjalankan masa perkuliahan —dengan memanfaatkan aset dan modal dari orang tuanya, Ramcho telah mencoba berbagai bisnis baik secara mandiri ataupun ber-partner dengan orang lain. Namun berhubung Ramcho adalah tipikal orang yang mudah bosanan, kurang tekun, dan kurang berkomitmen maka berbagai upaya bisnis tersebut gatot alias gagal total. Kepandaian bersosialisasinya  ternyata tidak membuatnya berhasil karena sifat mudah bosan, kurang komitmen, dan ketidaktekunannya dalam membangun bisnis. Pengalaman gagal berkali-kali inilah yang membuat Ramcho ragu untuk kembali berbisnis. Ramcho membuat peruntungan baru dengan bekerja pada sebuah institusi tertentu yang sebetulnya tidak sesuai dengan bidang perkuliahannya.  </span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Upaya Ramcho dalam berkarirpun tertatih-tatih sehingga pendapatan yang didapatkan juga cukup pas-pasan bahkan cenderung minus mengingat anak-ananya semakin tumbuh besar dengan berbagai kebutuhannya termasuk biaya pendidikan. Beruntunglah Ramcho memiliki orang tua berada sehingga kondisi keuangan yang minus masih bisa ditutup dari kucuran dana orang tua. Namun sayangnya dana orang tuanya semakin lama semakin berkurang, apalagi setelah ayah Ramcho meninggal beberapa tahun ssebelum dirinya menyelesaikan masa perkuliahannya. Untuk menutupi kebutuhan, Ramcho-pun membujuk ibunya untuk menjual aset demi aset yang ada.  Aset demi asetpun melayang hingga ibunya semakin beranjak tua dan akhirnya-pun menyusul ayahnya setelah sekian tahun Ramcho menekuni dunia kerjanya.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Aset peninggalan orang tua Ramcho akhirnya tinggal hitungan jari saja. Padahal dulunya banyak yang mengira bahwa kekayaannya orang tuanya tidak bakalan habis hingga tujuh turunan. </span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Suatu saat Ramcho secara tidak sengaja bertemu dengan Sokran, sahabat yang sering membuatnya dirinya jengkel hati. Setelah saling melepas kangen, Sokran-pun kembali menguliti sisi-sisi kehidupan Ramcho. Ramcho-pun tidak keberatan dengan keponya Sokran, apalagi Ramcho saat itu sedang merencanakan sesuatu yang ingin diomongkan ke Sokran.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Ramcho: <em>Seperti yang aku ceritakan tadi bahwa aset ortuku tinggal beberapa saja. Aku bermaksud untuk menjual aset-aset yang ada tersebut.</em></span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Sokran: <em>Lalu bagaimana dengan adikmu perempuan ? Apakah dia setuju dengan perencanaanmu ?</em></span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Ramcho: <em>Ah dia mah bakalan setuju-setuju saja.</em></span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Sokran: <em>Saat ortumu masih ada, engkau boleh menjual aset ortu hanya dengan persetujuan ortu tanpa harus meminta persetujuan adik-mu walaupun sebetulnya saya yakin ortumu akan meminta persetujuan adikmu tanpa sepengetahuanmu.</em></span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Ramcho: <em>Aku memang tak pernah tahu dan tidak mencoba mencari tahu tentang hal tersebut. Yang penting aku mendapatkan dana yang aku inginkan dari penjualan aset tersebut.</em></span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Sokran: <em>Okaylah itu masa lalu. Saat ini dengan tiadanya ortumu maka hukum waris berlaku. Kamu kan muslim, maka bersandarlah pada tuntunan agama kita tersebut. Maka hati-hati dalam memperlakukan aset-aset yang tersisa. Jangan sampai dirimu melanggar hukum waris. Hukumannya dunia akhirat lho… Kamu ingat kan kalimat sehari-hari yang sering kita dengar ? Uang hantu dimakan syetan… ini sebetulnya adalah hukum dunia terhadap uang-uang yang tidak kita dapatkan dengan cara benar alias menyalahi aturan.</em></span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Ramcho: <em>Tapi saya kan dalam kondisi sangat membutuhkan ? Adikku telah dicukupi oleh suaminya bahkan penghasilan suaminya sangat jauh diatasku. Toh selama ini adikku tidak membutuhkan apapun dari ortuku selama ini…</em></span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Sokran: <em>Jangan merasionalisasi sesuatu berdasar kepentinganmu semata. Ini bukan masalah rasionalisasi namun ini masalah aturan yang harus kita ikuti. Memang… apapun bisa kita rasionalisasi namun jangan coba-coba merasionalisasi aturan, apalagi aturan Allah ta ala. Rasionalisasi aturan akan menghasilkan konsekuensi lho… Hati-hati. Dan… bukankah hukum waris juga sudah memperhatikan aspek keadilan ? Lelaki seperti dirimu mendapat 2 bagian sementara perempuan dapat 1 bagian…</em></span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Ramcho tercekat dengan omongan Sokran. Namun dirinya tetap membatin: <em>Kehidupan adikku jauh lebih mapan dibanding diriku. Selama ini dirinya tidak pernah meminta ortu dan dirinya juga tidak pernah melakukan protes apapun saat aku meminta apapun ke ortu. Bagaimana mau protes, adikku jauh lebih berkecukupan dibanding diriku….</em></span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Beberapa tahun kemudian, Ramcho menjual aset-aset yang tersisa tanpa pemberitahuan ke adiknya dan dengan segala bujuk rayunya akhirnya adiknya mau menandatangani surat pelepasan aset. Dari hasil pelepasan aset yang ada, adiknya hanya dibagi 10%-nya saja. Menurut dirinya pembagian ini wajar dan adil karena dirinya jauh lebih membutuhkan dibanding adiknya. Seperti biasanya adiknya tidak menunjukkan protes walaupun dalam hatinya tetap saja mempertanyakan hal tersebut. Bahkan adiknya pernah mendiskusikan hal tersebut dengan suaminya namun suaminya menenangkan dan berkata: <em>Mas-mu memang aneh namun ya sudahlah mau diapain… toh nanti dia sendiri yang akan merasakan akibat perbuatannya tersebut. Tenang saja… mudah-mudahan perbuatan mas-mu bisa menjadi pengurang dosa kita …</em></span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, Geneva, sans-serif;">Entah mengapa tak sampai 2 tahun setelahnya, Ramcho terkena vonis menderita penyakit sirosis. Dan seiring dengan waktu, penyakitnya semakin parah hingga harus melakukan transplantasi. Tak lama kemudian salah satu anaknya juga terdeteksi kanker dan istrinyapun juga di diagnosa mengidap penyakit diabet. Kondisi tersebut tentunya sangat menguras dana yang dimiliki Ramcho. Hasil penjualan aset-aset sisa ortunya terkuras habis dalam waktu cepat untuk keperluan penyembuhan penyakit-penyakit yang diderita oleh diri dan keluarganya… disaat jangka waktu pengobatan masih tetap terus berlanjut. Kondisi ini membuat Ramcho seringkali termenung sedih dan pilu : <em>Apakah ini yang dimaksud Sokran? Uang hantu dimakan syetan…</em>.  Dalam keheningan yang mendalam Ramcho-pun berucap lirih: <em>Astagfirullahaladzim</em>… Tanpa bisa dicegah, meneteslah bulir-bulir air mata Ramcho.</span></p>

Ihsan Ramcho adalah seorang yang humoris dan supel terhadap siapapun. Tidaklah mengherankan jika Ramcho mudah masuk ke dalam lingkungan manapun. Bila Ramcho bertemu dengan seseorang yang baru dikenal, dalam hitungan jam bisa dipastikan Ramcho akan membuat si teman baru ini terbahak-bahak. Ramcho cepat sekali membuat suasana menjadi cair. Siapapun yang bertemu Ramcho pasti akan merasa cocok dan seolah-olah telah bertemu kawan akrab yang sudah lama tak berjumpa. Profil Ramcho memang sangat menyenangkan: heboh, setia kawan, mudah diajak kemana-mana, penuh pengertian, tidak pelit, memiliki banyak hobi, memiliki banyak lelucon, dan segudang hal lainnya yang amat menghibur. Tidak mengherankan jika Ramcho selalu menjadi pusat perhatian dimanapun dirinya berada. Disamping itu Ramcho juga dikenal sebagai anak dari kalangan yang berada. Orang tuanya memiliki aset yang tersebar dimana-mana.

Profil Ramcho tersebut membuat dirinya diidamkan oleh banyak wanita. Ramcho memiliki banyak relasi dengan wanita cantik saat menempuh jalur pendidikan universitasnya. Namun demikian hanya satu orang saja yang pada akhirnya membuat dirinya tergila-gila yakni si Namsalia. Namsalia adalah gadis cantik berhidung mancung dengan tubuh langsing semampai. Namsalia adalah tipikal gadis lugu, baik budi, tidak neko-neko, berpola pikir sederhana, tidak banyak permintaan, selalu mengumbar senyum disetiap kesempatan, dan suka bermanja-manja. 

Ramcho tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk melakukan pdkt ke Namsalia. Namsalia begitu cepat tertarik pada Ramcho hingga mereka berdua akhirnya saling menyatakan cinta. Akhirnya tidak lama kemudian mereka berdua berhasil membina rumah tangga yang harmonis dan dikarunia anak-anak yang ganteng dan manis-manis. 

Sifat Ramcho yang begitu mempesona siapapun membuatnya mudah membangun jejaring pertemana dengan siapapun. Namun sayangya Ramcho terlalu asyik bersosialisasi hingga masa kuliahnya berlarut-larut penyelesainnya, sementara sahabat-sahatab satu angkatan sudah berkarir di berbagai tempat. Untunglah Ramcho memiliki orangtua yang berkecukupan hingga kehidupan dirinya dan keluarganya tercukupi. 

Diantara sekian banyak sahabat yang dimiliki Ramcho, ada satu sahabat Ramcho yang spesial yakni bernama Sokran. Sebetulnya Sokran adalah tipe sahabat yang amat menjengkelkan bagi Ramcho. Bagaimana tidak menjengkelkan ? Setiap bertemu, Ramcho selalu mendapatkan rentetan pertanyaan untuk dirinya: Ramcho… hingga sampai kapan engkau akan terus kuliah ? Tidak risih-kah dirimu disebut mahasiswa abadi ? Walaupun hidupmu dan keluargamu saat ini tercukupi karena adanya dukungan dana yang berlimpah dari orang tuamu namun  akankah selamanya akan seperti ini ? Kapan engkau bisa mandiri ? Apa hebatnya engkau bersosialisasi namun ternyata belum mampu mandiri seutuhnya ? Walaupun aset dan duit orang tuamu cukup banyak namin orang tua-mu sudah pensiun, apakah dirimu akan terus mengandalkan mereka dalam roda kehidupanmu ? Berbagai rentetan pertanyaan Sokran membuat Ramcho tercekat dan terdiam tak berkutik. Di kala tertentu, Ramcho hanya bisa melotot pada Sokran sebagai tanda protes atas kebawelan Sokran namun jauh di lubuk hatinya… Ramcho membenarkan segala kebawelan Sokran. Oleh karenanya disaat-saat tertentu Ramcho merindukan kehadiran Sokran. 


Sebetulnya Ramcho hampir aja terkena DO dari masa perkuliahannya namun di tengah situasi yang kritis tersebut… Ramcho mendapatkan bantuan dari seorang dosen dan dekan fakultasnya. Berkat bantuan tersebut akhirnya Ramcho-pun bisa menyelesaikan masa kuliahnya. Di usia yang sudah tidak muda lagi, mulailah Ramcho berburu mencari kerja. Ramcho-pun mendapati kenyataan bahwa di sejumlah tempat dia melamar terdapat beberapa teman seangkatan yang sudah menjadi Bos dan tentunya akan menjadi salah satu Bosnya bila Ramcho diterima di tempat tersebut. Situasi tersebut membuat dirinya merasa jengah dan malu hingga akhirnya Ramcho-pun memutuskan untuk mencari kerja di tempat lain yang tidak ada teman seangkatannya. 

Ramcho sebetulnya lebih suka membangun bisnis sendiri daripada harus bekerja di perusahaan. Di tengah amburadulnya menjalankan masa perkuliahan —dengan memanfaatkan aset dan modal dari orang tuanya, Ramcho telah mencoba berbagai bisnis baik secara mandiri ataupun ber-partner dengan orang lain. Namun berhubung Ramcho adalah tipikal orang yang mudah bosanan, kurang tekun, dan kurang berkomitmen maka berbagai upaya bisnis tersebut gatot alias gagal total. Kepandaian bersosialisasinya  ternyata tidak membuatnya berhasil karena sifat mudah bosan, kurang komitmen, dan ketidaktekunannya dalam membangun bisnis. Pengalaman gagal berkali-kali inilah yang membuat Ramcho ragu untuk kembali berbisnis. Ramcho membuat peruntungan baru dengan bekerja pada sebuah institusi tertentu yang sebetulnya tidak sesuai dengan bidang perkuliahannya.  

Upaya Ramcho dalam berkarirpun tertatih-tatih sehingga pendapatan yang didapatkan juga cukup pas-pasan bahkan cenderung minus mengingat anak-ananya semakin tumbuh besar dengan berbagai kebutuhannya termasuk biaya pendidikan. Beruntunglah Ramcho memiliki orang tua berada sehingga kondisi keuangan yang minus masih bisa ditutup dari kucuran dana orang tua. Namun sayangnya dana orang tuanya semakin lama semakin berkurang, apalagi setelah ayah Ramcho meninggal beberapa tahun ssebelum dirinya menyelesaikan masa perkuliahannya. Untuk menutupi kebutuhan, Ramcho-pun membujuk ibunya untuk menjual aset demi aset yang ada.  Aset demi asetpun melayang hingga ibunya semakin beranjak tua dan akhirnya-pun menyusul ayahnya setelah sekian tahun Ramcho menekuni dunia kerjanya.

Aset peninggalan orang tua Ramcho akhirnya tinggal hitungan jari saja. Padahal dulunya banyak yang mengira bahwa kekayaannya orang tuanya tidak bakalan habis hingga tujuh turunan. 

Suatu saat Ramcho secara tidak sengaja bertemu dengan Sokran, sahabat yang sering membuatnya dirinya jengkel hati. Setelah saling melepas kangen, Sokran-pun kembali menguliti sisi-sisi kehidupan Ramcho. Ramcho-pun tidak keberatan dengan keponya Sokran, apalagi Ramcho saat itu sedang merencanakan sesuatu yang ingin diomongkan ke Sokran.

Ramcho: Seperti yang aku ceritakan tadi bahwa aset ortuku tinggal beberapa saja. Aku bermaksud untuk menjual aset-aset yang ada tersebut.

Sokran: Lalu bagaimana dengan adikmu perempuan ? Apakah dia setuju dengan perencanaanmu ?

Ramcho: Ah dia mah bakalan setuju-setuju saja.

Sokran: Saat ortumu masih ada, engkau boleh menjual aset ortu hanya dengan persetujuan ortu tanpa harus meminta persetujuan adik-mu walaupun sebetulnya saya yakin ortumu akan meminta persetujuan adikmu tanpa sepengetahuanmu.

Ramcho: Aku memang tak pernah tahu dan tidak mencoba mencari tahu tentang hal tersebut. Yang penting aku mendapatkan dana yang aku inginkan dari penjualan aset tersebut.

Sokran: Okaylah itu masa lalu. Saat ini dengan tiadanya ortumu maka hukum waris berlaku. Kamu kan muslim, maka bersandarlah pada tuntunan agama kita tersebut. Maka hati-hati dalam memperlakukan aset-aset yang tersisa. Jangan sampai dirimu melanggar hukum waris. Hukumannya dunia akhirat lho… Kamu ingat kan kalimat sehari-hari yang sering kita dengar ? Uang hantu dimakan syetan… ini sebetulnya adalah hukum dunia terhadap uang-uang yang tidak kita dapatkan dengan cara benar alias menyalahi aturan.

Ramcho: Tapi saya kan dalam kondisi sangat membutuhkan ? Adikku telah dicukupi oleh suaminya bahkan penghasilan suaminya sangat jauh diatasku. Toh selama ini adikku tidak membutuhkan apapun dari ortuku selama ini…

Sokran: Jangan merasionalisasi sesuatu berdasar kepentinganmu semata. Ini bukan masalah rasionalisasi namun ini masalah aturan yang harus kita ikuti. Memang… apapun bisa kita rasionalisasi namun jangan coba-coba merasionalisasi aturan, apalagi aturan Allah ta ala. Rasionalisasi aturan akan menghasilkan konsekuensi lho… Hati-hati. Dan… bukankah hukum waris juga sudah memperhatikan aspek keadilan ? Lelaki seperti dirimu mendapat 2 bagian sementara perempuan dapat 1 bagian…

Ramcho tercekat dengan omongan Sokran. Namun dirinya tetap membatin: Kehidupan adikku jauh lebih mapan dibanding diriku. Selama ini dirinya tidak pernah meminta ortu dan dirinya juga tidak pernah melakukan protes apapun saat aku meminta apapun ke ortu. Bagaimana mau protes, adikku jauh lebih berkecukupan dibanding diriku….

Beberapa tahun kemudian, Ramcho menjual aset-aset yang tersisa tanpa pemberitahuan ke adiknya dan dengan segala bujuk rayunya akhirnya adiknya mau menandatangani surat pelepasan aset. Dari hasil pelepasan aset yang ada, adiknya hanya dibagi 10%-nya saja. Menurut dirinya pembagian ini wajar dan adil karena dirinya jauh lebih membutuhkan dibanding adiknya. Seperti biasanya adiknya tidak menunjukkan protes walaupun dalam hatinya tetap saja mempertanyakan hal tersebut. Bahkan adiknya pernah mendiskusikan hal tersebut dengan suaminya namun suaminya menenangkan dan berkata: Mas-mu memang aneh namun ya sudahlah mau diapain… toh nanti dia sendiri yang akan merasakan akibat perbuatannya tersebut. Tenang saja… mudah-mudahan perbuatan mas-mu bisa menjadi pengurang dosa kita …

Entah mengapa tak sampai 2 tahun setelahnya, Ramcho terkena vonis menderita penyakit sirosis. Dan seiring dengan waktu, penyakitnya semakin parah hingga harus melakukan transplantasi. Tak lama kemudian salah satu anaknya juga terdeteksi kanker dan istrinyapun juga di diagnosa mengidap penyakit diabet. Kondisi tersebut tentunya sangat menguras dana yang dimiliki Ramcho. Hasil penjualan aset-aset sisa ortunya terkuras habis dalam waktu cepat untuk keperluan penyembuhan penyakit-penyakit yang diderita oleh diri dan keluarganya… disaat jangka waktu pengobatan masih tetap terus berlanjut. Kondisi ini membuat Ramcho seringkali termenung sedih dan pilu : Apakah ini yang dimaksud Sokran? Uang hantu dimakan syetan….  Dalam keheningan yang mendalam Ramcho-pun berucap lirih: Astagfirullahaladzim… Tanpa bisa dicegah, meneteslah bulir-bulir air mata Ramcho.



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.