Selembar kertas kosong

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Adam adalah kepala keluarga kecil yang tinggal di daerah tak bertuan yang berada di pinggiran kota. Adam memiliki 2 anak —satu cowok berusia 10 tahun dan satu cewek berusia 9 tahun dan seorang istri dengan wajah tenang dan terus menyunggingkan senyuman. Bangunan rumah tinggalnya adalah bangunan seadanya saja. Adam bekerja secara serabutan untuk menghidupi keluarganya. Akhir-akhir ini Adam lebih banyak menekuni pekerjaan pemulung dibanding pekerjaan lainnya. Menurut Adam, bekerja sebagai pemulung jauh lebih bebas dan mandiri dibanding pekerjaan lainnya. Di pekerjaan-pekerjaan sebelumnya Adam selalu bekerja pada orang lain dan karenanya selalu dalam kondisi diperintah dan disuru-suruh. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Setiap gerak-geriknya selalu dalam pengawasan si pemberi kerja. Kebetulan bos-bos dimana Adam bekerja adalah tipikal bos yang penuntut dan memiliki kebawelan yang luar biasa. Mereka suka mengeluarkan kata-kata merendahkan dan menyakiti. Perasaan Adam teraduk-aduk nggak karu-karuan saat berada di seputar mereka: malu, kecewa, sedih, marah, dan sebagainya. Dalam kegundahannya Adam sering mengeluarkan berbagai umpatan kecil baik saat bekerja ataupun saat berada di rumah.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Tak kuat dengan kondisi yang dihadapinya, akhirnya Adam pindah profesi menjadi pemulung. Dengan profesi baru ini Adam merasa bebas. Tidak ada lagi yang main-main perintah ke dirinya. Namun demikian tekanan kehidupan tetap saja terus menemani dan mengikutinya. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Sebagai pemulung pemula, Adam belum memiliki daerah kekuasaan dan karenanya di lapangan sering terjadi gesekan dengan pemulung-pemulung lain yang sudah terbiasa memulung di daerah tertentu. Sebagai pendatang baru, kehadiran Adam dianggap sebagai ancaman. Tak jarang Adam harus berbaku hantam dengan mereka. Disamping itu, Adam juga belum tahu kapan waktu yang paling tepat untuk melakukan proses pemulungan agar bisa mendapatkan hasil pulungan yang bernilai. Tekanan demi tekanan kehidupan membuat kondisi psikis Adam menjadi semakin labil dan sensitif.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Labilitas dan sensitivitas Adam terbawa hingga ke rumah. Tanpa disadari, Adam sering termenung dan larut dalam lamunan. Amarahnya mudah tersulut saat ada sesuatu yang tidak cocok dihatinya. Ada saja kejadian di rumah yang membuat emosi Adam tersulut: mendengar rengekan anak… emosi, padahal anak-anaknya lagi merengek manja ke ibunya. Anak-anaknya memainkan mainan yang diambil dari hasil pulungan… emosi. Istrinya tidak cepat merespon panggilannya… emosi. Hanya 2 hal yang dilakukan Adam saat berada di rumah : termenung dan marah.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Suatu saat ketika Adam pulang ke rumah sehabis memulung, dirinya mendapati selembar kertas dilipat rapi tergeletak di meja plastik yang kusam. Selembar kertas kusam hasil pulungan terlipat rapi, sepertinya surat. Surat tersebut tidak beramplop. Di lipatan atas tertulis: Buat suami tercinta dan ayah tersayang. Dibawahnya ada gambar cinta dari tinta yang sudah buram. Dibawah gambar tersebut tertera nama Ekawati - istrimu, dan 2 tulisan yang tidak rapi: Munawaroh - anak perempuanmu… Eko - anak lakimu. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Adam sempat acuh tak acuh melihat lipatan surat tersebut. Melirik sebentar dan selanjutnya membuat kopi untuk dirinya sendiri. Adam tidak berusaha mencari istri dan anak-anaknya karena di jam-jam tersebut istrinya sedang mencari tambahan duit sebagai tukang cuci gosok di sejumlah rumah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sementara anak-anaknyapun masih ada di sekolah. Setelah sekian lama menikmati kopi, barulah Adam beranjak melihat lebih seksama surat yang tergeletak di meja plastik yang lusuh dan sudah tidak utuh lagi.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Dipandanginya surat tersebut dan selanjutnya dibuka… tidak ada tulisan apapun. Kosong melompong. Yang terlihat hanyalah bekas-bekas lipatan yang tidak beraturan… maklum kertas tersebut adalah hasil pulungan di tempat sampah. Sambil meremas kertas tersebut, Adam mengumpat: gila… sialan. Dengan kesalnya kertas tersebut dilempar ke sembarang tempat sambil menggerutu: sungguh edan…. ngapain pakai dilipat segala  bila ternyata tidak ada isinya..!</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Beberaja jam kemudian saat Adam mau memulung lagi, dia berpapasan dengan istrinya yang lagi menuju rumah. Adampun melampiaskan kegusarannya pada istrinya namun istrinya hanya menanggapi dengan senyuman khasnya.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Beberapa hari kemudiaan hal yang sama terjadi. Adam tetap penasaran dan dibuka lagi surat tersebut: kosong seperti sebelumnya. Adam ngomel2 lagi. Adampun bertanya ke anaknya yang palling besar… namun respon yang didapatkan hanyalah tatapan mata saja, anaknya menggeleng kecil lalu memberikan pelukan ringan sebentar saja dan kabuuur. Ah sudah gila anak dan istriku..: umpat Adam. Malam harinya Adam ngomel-ngomel ke istrinya namun istrinya tetap tidak memberikan komentar apapun. Istrinya hanya menatapnya dengan senyuman.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Seminggu kemudian terjadi lagi hal yang sama. Adampun langsung meremas lipatan kertas yang ada dan membuangnya. Adam meradang hingga ketemulah dengan istrinya di malam hari.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Adam: gila kamu ya… ngapain sih selalu bikin kesal aku ? Ngapain bikin surat berkali-kali seperti itu ? Sengaja memancing emosi saya ya ? Kamu tuch ya bikin ulah yang nggak-nggak saja…  </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Ekawati dengan senyum khasnya: Ehm…</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Adam:  Dari kemarin kamu cuma senyam - senyum dan ehm-ehm aja. Apa sih yang membuatmu buat surat macam orang gila seperti itu ?</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Ekawati membatin : Yaaach biasanya kalau ngamuk nggak fokus… semua hal yang membuatnya marah di masa-masa sebelumnya diungkit-ungkit terus. Heran… kali ini hanya berfokus di surat saja. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Tak lama setelah membatin Ekawati merespon : Ehm… benaar nich Mas mau tahu kenapa kami membuat surat seperti itu ?</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Dengan cepatnya Adam menjawab : Kamu tuch ya… istri yang tidak cepat tanggap. Kan dari kemarin aku tanya. Dasar dodol juga kamu ya…</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Ekawati dengan wajah sabarnya menyambut : Masih pengin marah…. marahlah kalau kamu masih pengin marah… sampai kapanpun aku siap kok menerima dan menampung amarahmu…</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Adam : Huh dasar kamu ya…. Lalu Adampun menyeruput kopi hitam pekat tanpa gula yang ada di depannya.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Ekawati sangat paham bahasa isyarat suaminya… bila suaminya mengatakan hal demikian lalu diikuti tindakan menyeruput kopi maka saat itulah suaminya telah siap mendengarkan dirinya. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Ekawati: Surat tanpa isi yang kami buat adalah sebetulnya sebuah pesan. Pesan dari kami yang mencintai dan menyanyangimu tanpa syarat. Saat kami melihatmu sensitif kami sungguh sedih dan menaruh iba padamu. Saat kami melihatmu marah-marah, sungguh kami bersedih dan menaruh iba padamu. Saat kami melihatmu termenung lesu, kamipun bersedih dan menaruh iba padamu. Betapa banyak beban yang ada dalam pikiranmu. Kami tahu bahwa tidaklah mungkin kami bisa membebaskanmu dari beban-beban tersebut. Yang bisa membebaskanmu hanyalah kamu sendiri Mas… bukan kami. Kami tidak berani memberikan ujar-ujaran atau hiburan apapun karena kami yakin hal itupun tidak akan berpengaruh banyak padamu. Yang kami bisa hanyalah menitip pesan kosong melalui surat tersebut. Sengaja kami tidak menulis apapun dalam surat itu… Kekosongan itulah sebetulnya pesan kami. Kosongkan dirimu Mas…! Buanglah semua beban yang saat ini menghantui pikiranmu. Buanglah pikiran-pikiran yang menggelayuti dirimu. Buanglah perasaan-perasaan yang selalu membuntutimu. Kosongkan dirimu Mas… agar kamu bisa menemukan berbagai kebaikan yang ada di dirimu. Kosongkan dirimu Mas… agar langkah kamu semakin ringan karena bebas dari beban yang berlebihan. Kosongkan dirimu Mas…. Jangan memberikan penilaian apapun atas apa yang terjadi padamu Mas. Kekosongan itulah yang akan bisa membantumu menggapai apa yang kamu inginkan.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Tak terasa tetes demi tetes air mata Ekawatipun berjatuhan. Suasana menjadi hening sehening malam yang semakin larut. Tatapan mata Adampun kosong… rokok yang ada ditangannya dihisab dalam-dalam. Tak lama kemudia bangkitlah Adam meninggalkan istrinya tanpa berkata apapun.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Ekawati tetap diam di tempatnya dan membiarkan Adam pergi. Ekawati tahu bahwa kepergian Adam adalah sebagai isyarat bahwa omongannya telah menggoncang pikiran dan batinnya. Selama perkawinan, Ekawati betul-betul mempelajari profil suaminya dengan baik sehingga dia tahu kapan harus diam, kapan harus mundur, dan kapan harus maju. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Malam itu Adam tidak tidur di rumah… pergi entah kemana. Mungkin menenangkan diri: batin Ekawati. Ekawati dan anak-anaknya tidak juga berusaha mencari. Esoknyapun Adam belum pulang. Di malam ketiga… hampir mendekati tengah malam, Adampun pulang. Adampun mendekati istrinya yang sedang setengah tiduran di ranjang yang berbentuk ala kadarnya… memeluknya dan berkata lirih di telinganya: Terimakasih… Dan selanjutnya mereka berpelukan erat dan bergumul penuh nafsu layaknya pengantin baru.</span></span></p>

Adam adalah kepala keluarga kecil yang tinggal di daerah tak bertuan yang berada di pinggiran kota. Adam memiliki 2 anak —satu cowok berusia 10 tahun dan satu cewek berusia 9 tahun dan seorang istri dengan wajah tenang dan terus menyunggingkan senyuman. Bangunan rumah tinggalnya adalah bangunan seadanya saja. Adam bekerja secara serabutan untuk menghidupi keluarganya. Akhir-akhir ini Adam lebih banyak menekuni pekerjaan pemulung dibanding pekerjaan lainnya. Menurut Adam, bekerja sebagai pemulung jauh lebih bebas dan mandiri dibanding pekerjaan lainnya. Di pekerjaan-pekerjaan sebelumnya Adam selalu bekerja pada orang lain dan karenanya selalu dalam kondisi diperintah dan disuru-suruh. 

Setiap gerak-geriknya selalu dalam pengawasan si pemberi kerja. Kebetulan bos-bos dimana Adam bekerja adalah tipikal bos yang penuntut dan memiliki kebawelan yang luar biasa. Mereka suka mengeluarkan kata-kata merendahkan dan menyakiti. Perasaan Adam teraduk-aduk nggak karu-karuan saat berada di seputar mereka: malu, kecewa, sedih, marah, dan sebagainya. Dalam kegundahannya Adam sering mengeluarkan berbagai umpatan kecil baik saat bekerja ataupun saat berada di rumah.

Tak kuat dengan kondisi yang dihadapinya, akhirnya Adam pindah profesi menjadi pemulung. Dengan profesi baru ini Adam merasa bebas. Tidak ada lagi yang main-main perintah ke dirinya. Namun demikian tekanan kehidupan tetap saja terus menemani dan mengikutinya. 

Sebagai pemulung pemula, Adam belum memiliki daerah kekuasaan dan karenanya di lapangan sering terjadi gesekan dengan pemulung-pemulung lain yang sudah terbiasa memulung di daerah tertentu. Sebagai pendatang baru, kehadiran Adam dianggap sebagai ancaman. Tak jarang Adam harus berbaku hantam dengan mereka. Disamping itu, Adam juga belum tahu kapan waktu yang paling tepat untuk melakukan proses pemulungan agar bisa mendapatkan hasil pulungan yang bernilai. Tekanan demi tekanan kehidupan membuat kondisi psikis Adam menjadi semakin labil dan sensitif.

Labilitas dan sensitivitas Adam terbawa hingga ke rumah. Tanpa disadari, Adam sering termenung dan larut dalam lamunan. Amarahnya mudah tersulut saat ada sesuatu yang tidak cocok dihatinya. Ada saja kejadian di rumah yang membuat emosi Adam tersulut: mendengar rengekan anak… emosi, padahal anak-anaknya lagi merengek manja ke ibunya. Anak-anaknya memainkan mainan yang diambil dari hasil pulungan… emosi. Istrinya tidak cepat merespon panggilannya… emosi. Hanya 2 hal yang dilakukan Adam saat berada di rumah : termenung dan marah.


Suatu saat ketika Adam pulang ke rumah sehabis memulung, dirinya mendapati selembar kertas dilipat rapi tergeletak di meja plastik yang kusam. Selembar kertas kusam hasil pulungan terlipat rapi, sepertinya surat. Surat tersebut tidak beramplop. Di lipatan atas tertulis: Buat suami tercinta dan ayah tersayang. Dibawahnya ada gambar cinta dari tinta yang sudah buram. Dibawah gambar tersebut tertera nama Ekawati - istrimu, dan 2 tulisan yang tidak rapi: Munawaroh - anak perempuanmu… Eko - anak lakimu. 

Adam sempat acuh tak acuh melihat lipatan surat tersebut. Melirik sebentar dan selanjutnya membuat kopi untuk dirinya sendiri. Adam tidak berusaha mencari istri dan anak-anaknya karena di jam-jam tersebut istrinya sedang mencari tambahan duit sebagai tukang cuci gosok di sejumlah rumah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sementara anak-anaknyapun masih ada di sekolah. Setelah sekian lama menikmati kopi, barulah Adam beranjak melihat lebih seksama surat yang tergeletak di meja plastik yang lusuh dan sudah tidak utuh lagi.

Dipandanginya surat tersebut dan selanjutnya dibuka… tidak ada tulisan apapun. Kosong melompong. Yang terlihat hanyalah bekas-bekas lipatan yang tidak beraturan… maklum kertas tersebut adalah hasil pulungan di tempat sampah. Sambil meremas kertas tersebut, Adam mengumpat: gila… sialan. Dengan kesalnya kertas tersebut dilempar ke sembarang tempat sambil menggerutu: sungguh edan…. ngapain pakai dilipat segala  bila ternyata tidak ada isinya..!

Beberaja jam kemudian saat Adam mau memulung lagi, dia berpapasan dengan istrinya yang lagi menuju rumah. Adampun melampiaskan kegusarannya pada istrinya namun istrinya hanya menanggapi dengan senyuman khasnya.

Beberapa hari kemudiaan hal yang sama terjadi. Adam tetap penasaran dan dibuka lagi surat tersebut: kosong seperti sebelumnya. Adam ngomel2 lagi. Adampun bertanya ke anaknya yang palling besar… namun respon yang didapatkan hanyalah tatapan mata saja, anaknya menggeleng kecil lalu memberikan pelukan ringan sebentar saja dan kabuuur. Ah sudah gila anak dan istriku..: umpat Adam. Malam harinya Adam ngomel-ngomel ke istrinya namun istrinya tetap tidak memberikan komentar apapun. Istrinya hanya menatapnya dengan senyuman.

Seminggu kemudian terjadi lagi hal yang sama. Adampun langsung meremas lipatan kertas yang ada dan membuangnya. Adam meradang hingga ketemulah dengan istrinya di malam hari.

Adam: gila kamu ya… ngapain sih selalu bikin kesal aku ? Ngapain bikin surat berkali-kali seperti itu ? Sengaja memancing emosi saya ya ? Kamu tuch ya bikin ulah yang nggak-nggak saja…  

Ekawati dengan senyum khasnya: Ehm…

Adam:  Dari kemarin kamu cuma senyam - senyum dan ehm-ehm aja. Apa sih yang membuatmu buat surat macam orang gila seperti itu ?

Ekawati membatin : Yaaach biasanya kalau ngamuk nggak fokus… semua hal yang membuatnya marah di masa-masa sebelumnya diungkit-ungkit terus. Heran… kali ini hanya berfokus di surat saja. 

Tak lama setelah membatin Ekawati merespon : Ehm… benaar nich Mas mau tahu kenapa kami membuat surat seperti itu ?

Dengan cepatnya Adam menjawab : Kamu tuch ya… istri yang tidak cepat tanggap. Kan dari kemarin aku tanya. Dasar dodol juga kamu ya…

Ekawati dengan wajah sabarnya menyambut : Masih pengin marah…. marahlah kalau kamu masih pengin marah… sampai kapanpun aku siap kok menerima dan menampung amarahmu…

Adam : Huh dasar kamu ya…. Lalu Adampun menyeruput kopi hitam pekat tanpa gula yang ada di depannya.

Ekawati sangat paham bahasa isyarat suaminya… bila suaminya mengatakan hal demikian lalu diikuti tindakan menyeruput kopi maka saat itulah suaminya telah siap mendengarkan dirinya. 

Ekawati: Surat tanpa isi yang kami buat adalah sebetulnya sebuah pesan. Pesan dari kami yang mencintai dan menyanyangimu tanpa syarat. Saat kami melihatmu sensitif kami sungguh sedih dan menaruh iba padamu. Saat kami melihatmu marah-marah, sungguh kami bersedih dan menaruh iba padamu. Saat kami melihatmu termenung lesu, kamipun bersedih dan menaruh iba padamu. Betapa banyak beban yang ada dalam pikiranmu. Kami tahu bahwa tidaklah mungkin kami bisa membebaskanmu dari beban-beban tersebut. Yang bisa membebaskanmu hanyalah kamu sendiri Mas… bukan kami. Kami tidak berani memberikan ujar-ujaran atau hiburan apapun karena kami yakin hal itupun tidak akan berpengaruh banyak padamu. Yang kami bisa hanyalah menitip pesan kosong melalui surat tersebut. Sengaja kami tidak menulis apapun dalam surat itu… Kekosongan itulah sebetulnya pesan kami. Kosongkan dirimu Mas…! Buanglah semua beban yang saat ini menghantui pikiranmu. Buanglah pikiran-pikiran yang menggelayuti dirimu. Buanglah perasaan-perasaan yang selalu membuntutimu. Kosongkan dirimu Mas… agar kamu bisa menemukan berbagai kebaikan yang ada di dirimu. Kosongkan dirimu Mas… agar langkah kamu semakin ringan karena bebas dari beban yang berlebihan. Kosongkan dirimu Mas…. Jangan memberikan penilaian apapun atas apa yang terjadi padamu Mas. Kekosongan itulah yang akan bisa membantumu menggapai apa yang kamu inginkan.

Tak terasa tetes demi tetes air mata Ekawatipun berjatuhan. Suasana menjadi hening sehening malam yang semakin larut. Tatapan mata Adampun kosong… rokok yang ada ditangannya dihisab dalam-dalam. Tak lama kemudia bangkitlah Adam meninggalkan istrinya tanpa berkata apapun.

Ekawati tetap diam di tempatnya dan membiarkan Adam pergi. Ekawati tahu bahwa kepergian Adam adalah sebagai isyarat bahwa omongannya telah menggoncang pikiran dan batinnya. Selama perkawinan, Ekawati betul-betul mempelajari profil suaminya dengan baik sehingga dia tahu kapan harus diam, kapan harus mundur, dan kapan harus maju. 

Malam itu Adam tidak tidur di rumah… pergi entah kemana. Mungkin menenangkan diri: batin Ekawati. Ekawati dan anak-anaknya tidak juga berusaha mencari. Esoknyapun Adam belum pulang. Di malam ketiga… hampir mendekati tengah malam, Adampun pulang. Adampun mendekati istrinya yang sedang setengah tiduran di ranjang yang berbentuk ala kadarnya… memeluknya dan berkata lirih di telinganya: Terimakasih… Dan selanjutnya mereka berpelukan erat dan bergumul penuh nafsu layaknya pengantin baru.



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.