Ajari Otak kita dengan hal positif dan kebahagiaan

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Sudah bukan rahasia lagi bahwa kebahagiaan seseorang sangat tergantung pada apa yang ada di dalam pikirannya. Kebahagiaan itu adalah <em>output</em> sementara pikiran itu adalah <em>input</em>. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Berbicara tentang <em>output</em>, kebahagiaan bukanlah satu-satunya bentuk <em>output</em>. Ada  berbagai bentuk <em>output</em> yang lain. Bukankah kita pernah mendengar serangkaian pernyataan: apa yang kita pikirkan itulah yang cenderung akan kita katakan, apa yang kita katakan itulah yang cenderung akan kita lakukan… Dan bila diteruskan: apa yang kita lakukan itulah yang cenderung akan menjadi kebiasaan kita, kebiasaan yang terus menerus kita lakukan akan menjadi perilaku kita, dan perilaku yang menetap itulah sebagai karakter kita. Berbagai bentuk <em>output</em> tersebut, <em>input</em>-nya cuma satu yakni pikiran.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Bisa dikatakan, pikiran memiliki daya gerak yang begitu luar biasa. Mengapa bisa demikian dan mekanisme seperti apa hingga pikiran menjadi sentral dari segala <em>output</em> yang ada ? Sepertinya susah menjawab pertanyaan tersebut. Biarlah tetap menjadi pertanyaan saja. Yang jelas pikiran memiliki kemampuan berkata-kata jauh lebih dasyat dibanding mulut. Coba perhatikan diri kita sendiri. Saat kita sedang berbicara menggunakan mulut kita, apakah pikiran kita diam dan tidak bicara ? Pikiran kita pasti berbicara bukan ? Itu yang disebut <em>self-talk</em>, berbicara pada diri sendiri. Saat mulut kita diam, pikiran terus berceloteh… bahkan saat mulut kita aktif berbicarapun, pikiran kita tetap berceloteh dengan kelincahan yang super sekali. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Mulut dan pikiran adalah 2 media komunikasi yang diberikan oleh Tuhan ke manusia, tentunya tanpa mengesampingkan telinga. Ada media komunikasi lain yakni bahasa insyarat dengan menggunakan bahasa tubuh dan gerakan mulut yang tak bersuara…namun hal ini bukan menjadi pembahasan kita.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Mulut dan telinga menjadi satu paket media komunikasi, mereka bersatu sebagai media untuk berkomunikasi antar sesama manusia. Pikiran adalah media untuk berkomunikasi dengan diri sendiri. Hanya kita sendiri dan Tuhan yang tahu apa yang sedang berkecamuk di pikiran kita. Tak ada seseorangpun yang bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkan orang lain dan kalau seandainya ada yang mengaku bisa membaca pikiran orang lain… itu hanyalah merupakan proses menduga-duga: bisa jadi kadang benar namun seringkali salah. Pikiran seseorang mulai diketahui hanya saat yang bersangkutan mulai bicara.  </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Sekali lagi, pikiran memiliki kemampuan dan kecepatan berkata-kata yang luar biasa. Yang perlu dicermati bukanlah kemampuan dan kecepatan pikiran namun lebih pada konten yang ada didalam pikiran tersebut. Ingat bahwa konten yang ada di pikiran akan menentukan apa yang kita bicarakan, menentukan apa yang akan kita lakukan, menentukan apa yang akan menjadi kebiasaan, perilaku, dan karakter kita. Oleh karenanya konten yang ada di pikiran harus menjadi sentral perhatian. Konten positif akan menghasilkan <em>output</em> positif dan konten negatif akan menghasilkan <em>output</em> negatif.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Dengan demikian berhati-hatilah… kemampuan dan kecepatan pikiran dalam mengolah konten sungguh sangat luar biasa. Oleh karenanya jangan membiarkan pikiran dengan liarnya mengolah konten tanpa ada kontrol yang seimbang. Seringkali kita meliarkan pikiran kita atau dengan kata lain seringkali kita tidak mempedulikan konten apa yang sedang diolah oleh pikiran kita. Bahkan seringkali kita tidak melakukan proses identifikasi sama sekali terhadap konten yang sedang diolah oleh pikiran. Kita hanya membiarkan dan justru menuruti konten apa saja yang sedang berkecamuk di pikiran kita. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Sebagai contoh, cermatilah kisah hidup seseorang yang bernama Aldo…</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Di hari minggu yang cerah Aldo bersama istrinya sedang berada di kamarnya. Kebetulan Aldo terbangun terlebih dahulu dibanding istrinya. Padahal biasanya Aldo bangun belakangan. Dan biasanya saat Aldo terbangun… kopi kesukaannya sudah diolah oleh istrinya dan selalu tersedia di meja dekat tempat tidur. Namun sayangnya minggu kali ini sangat berbeda… Aldo bangun lebih awal. Setelah menyelesaikan hajat di kamar mandi, Aldo melihat meja kecil dimana biasanya sudah tersedia kopi hangat nan menggoda. Sekilas lirik tak ada secangkir kopi yang selama ini memanjakannya saat baru bangun tidur. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Aldo membatin (pikiran Aldo) berkata-kata: Whealah belom ada kopi… Lalu Aldopun melirik sang istri yang mulutnya masih setengah terbuka. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">PA (pikiran Also) terus bermanuver: yach… bojo masih ngencees ! Wah cilaka ini… ya sudahlah aku main HP dulu… untung hari minggu.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Aldopun main HP… setengah jam kemudian Aldo kembali melirik istrinya.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">PA : Ya ampun lelap banget sih… waduch gawat nich… kapan tersedia kopi-nya donk ? Huh… terpaksa harus main HP lagi dech… Mulut Aldopun manyun mengikuti alur pikirannya.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">1,5 jam pun lewat… istrinya bergerak merubah posisi tidurnya…</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">PA : Asyiiiik… mulai bangun! Namun istrinya terlelap lagi karena terdengar dengkuran halus. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">PA : Wheladalah… ngaco nich bojo. Apa dia nggak nyadar pa ya… kopi suaminya belom tersedia ! (padahal istrinya memang belum nyadar…). Memang ini hari minggu… cuma sampai kapan aku harus ngiler menahan keinginan ngopi … ! Whew… Terpaksa main HP lagi dech… (Gigi Aldopun bergemeretak kecil). </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">30 menit lagi berlalu…. Aldo kembali melirik istrinya.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">PA : Yeaaah… blom juga bangun. Mulut Aldopun berdehem kenceng: Ehm… Ehm… Ehm. Dilanjutkan dengan suara batuk-batuk : Ehem… Ehukhuk… Ehom..hom..hom…Ehuk-huk-huk… Lalu matanya melirik ke istri. Ternyata sang istri tetap terdiam dengan mulut tetap terganga.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">PA : Yealah budeg juga nich bojo ya… (Aldo sudah mulai tidak tertarik main HP… HPnya hanya di putar-putar ke segala arah dengan ekspresi mulut yang semakin manyun)</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">30 menit lagi berlalu…. dan istrinya masih diam di tempatnya. Aldopun melirik kemballi ke istrinya.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">PA : OMG… sepertinya sengaja nich bojo. Sengaja tidak melayaniku. Aku dah cape-cape cari duit.. Eee.. nggak diperhatikan. Sampai hati kali bojo membiarkan diriku berjam-jam tidak ngopi. Whuaaah…ini nggak bisa dibiarkan..! </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Kebetean si Aldopun semakin menjadi-jadi………..</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Bila kondisi yang dialami Aldo terus berlanjut hingga beberapa waktu kemudian dan konten pikiran Aldo terus bermuatan negatif… apa yang selanjutnya akan terjadi ? Bagaimanakah kira-kira ekspresi wajah Aldo, apakah ekspresi mukanya enak dilihat dan penuh senyuman ataukah ekspresi berkerut penuh amarah ? Dan bila istrinya terbangun, apa kira-kira yang akan terjadi? Akan muncul suasana yang tegang bukan? </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Apabila konten negatif yang ada dipikiran Aldo terus berkembang dan liar… bisa dipastikan Aldo akan meluncurkan berbagai kata amarah secara bertubu-tubi.  Semakin liar konten negatif di pikiran Aldo maka persoalan yang muncul akan semakin panjang dan bisa-bisa persoalan yang dimunculkan tidak hanya berfokus soal kopi namun akan merembet ke berbagai persoalan lainnya. Dan bila….  konten yang ada dipikiran istri Aldo sama sekali tidak bisa menerima protes dan kemarahan Aldo dan juga dipenuhi oleh berbagai konten negatif yang sama liarnya maka terjadilah perang baratayudha di hari minggu nan cerah tersebut.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Aldo sebetulnya sadar akan konten yang ada di pikirannya. Namun Aldo tidak segera berusaha melakukan re-direksi atas apa yang berkembang di alam pikirannya. Coba kalau di awal-awal si Aldo melakukan re-direksi ke arah yang positif…. dengan ilustrasi sebagai berikut….:</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">PA : Whealah belom ada kopi… Lalu Aldopun melirik sang istri yang mulutnya masih setengah terbuka. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">PA (pikiran Aldo) terus berlanjut: yach… bojo masih ngencees ! Wah sungguh cilaka ini… tapi yaaa.. sudahlah aku main HP dulu… untung ini hari minggu. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Aldo melirik kembali ke istrinya…..</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">PA : Betapa cantiknya istriku saat mulutnya terbuka… sepertinya bojo kecapean… Cilakaaa…ah nggak-lah... kan cuma bikin kopi aja… biarlah aku nanti bikin kopi sendiri… sekali-kali nggak apa-apa. Setengan jam lagi bila belum bangun, aku akan bikin kopi sendiri aja dach. Kurekam dulu ach wajah nan cantik yang lagi pules….</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Bila Aldo berhasil me-redireksi seperti diatas.. dan konten yang berkembang di pikiran Aldo terus bermuatan positif maka bisa dipastikan suasana di hari minggu tersebut akan tetap cerah dan penuh kebahagiaan. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Aldo tidaklah sendirian. Semua orang mengalami sebagaimana yang dialami oleh Aldo. Sayangnya, kebanyakan orang sangat membuka diri dan bahkan melakukan pembiaran terhadap permainan konten negatif yang ada dipikirannya. Mereka tidak berupaya melakukan re-direksi terhadap konten negatif yang sedang bermain-main di pikirannya. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Berhati-hatilah. Nyaman atau tidak nyaman, suka ataupun duka, ceria ataupun tidak ceria, bahagia ataupun tidak bahagia, gampang ataupun susah hidup kita sangat tergantung pada konten apa yang sedang berkecamuk di pikiran kita. Agar bisa menikmati hidup dengan baik, kita harus terus mengasah kemampuan re-direksi pikiran kita. Apalagi di zaman sekarang dimana provokasi konten negatif bertebaran dimana-mana dengan sangat intens, kemampuan re-direksi pikiran kita harus semakin ditingkatkan.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Konten apa yang saat ini dominan ada di pikiranmu sobat ? Sudahkan sobat lakukan upaya re-direksi jika konten tersebut dominan bermuatan negatif ? Ataukah sobat memang lagi senang meliarkan konten pikiran negatif tersebut ? Bagaimanakah kualitas kehidupan sobat bila sobat terus menerus melakukan pembiaran atas konten negatif tersebut ? </span></span></p>

<p style="text-align:justify"> </p>

Sudah bukan rahasia lagi bahwa kebahagiaan seseorang sangat tergantung pada apa yang ada di dalam pikirannya. Kebahagiaan itu adalah output sementara pikiran itu adalah input

Berbicara tentang output, kebahagiaan bukanlah satu-satunya bentuk output. Ada  berbagai bentuk output yang lain. Bukankah kita pernah mendengar serangkaian pernyataan: apa yang kita pikirkan itulah yang cenderung akan kita katakan, apa yang kita katakan itulah yang cenderung akan kita lakukan… Dan bila diteruskan: apa yang kita lakukan itulah yang cenderung akan menjadi kebiasaan kita, kebiasaan yang terus menerus kita lakukan akan menjadi perilaku kita, dan perilaku yang menetap itulah sebagai karakter kita. Berbagai bentuk output tersebut, input-nya cuma satu yakni pikiran.

Bisa dikatakan, pikiran memiliki daya gerak yang begitu luar biasa. Mengapa bisa demikian dan mekanisme seperti apa hingga pikiran menjadi sentral dari segala output yang ada ? Sepertinya susah menjawab pertanyaan tersebut. Biarlah tetap menjadi pertanyaan saja. Yang jelas pikiran memiliki kemampuan berkata-kata jauh lebih dasyat dibanding mulut. Coba perhatikan diri kita sendiri. Saat kita sedang berbicara menggunakan mulut kita, apakah pikiran kita diam dan tidak bicara ? Pikiran kita pasti berbicara bukan ? Itu yang disebut self-talk, berbicara pada diri sendiri. Saat mulut kita diam, pikiran terus berceloteh… bahkan saat mulut kita aktif berbicarapun, pikiran kita tetap berceloteh dengan kelincahan yang super sekali. 

Mulut dan pikiran adalah 2 media komunikasi yang diberikan oleh Tuhan ke manusia, tentunya tanpa mengesampingkan telinga. Ada media komunikasi lain yakni bahasa insyarat dengan menggunakan bahasa tubuh dan gerakan mulut yang tak bersuara…namun hal ini bukan menjadi pembahasan kita.

Mulut dan telinga menjadi satu paket media komunikasi, mereka bersatu sebagai media untuk berkomunikasi antar sesama manusia. Pikiran adalah media untuk berkomunikasi dengan diri sendiri. Hanya kita sendiri dan Tuhan yang tahu apa yang sedang berkecamuk di pikiran kita. Tak ada seseorangpun yang bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkan orang lain dan kalau seandainya ada yang mengaku bisa membaca pikiran orang lain… itu hanyalah merupakan proses menduga-duga: bisa jadi kadang benar namun seringkali salah. Pikiran seseorang mulai diketahui hanya saat yang bersangkutan mulai bicara.  


Sekali lagi, pikiran memiliki kemampuan dan kecepatan berkata-kata yang luar biasa. Yang perlu dicermati bukanlah kemampuan dan kecepatan pikiran namun lebih pada konten yang ada didalam pikiran tersebut. Ingat bahwa konten yang ada di pikiran akan menentukan apa yang kita bicarakan, menentukan apa yang akan kita lakukan, menentukan apa yang akan menjadi kebiasaan, perilaku, dan karakter kita. Oleh karenanya konten yang ada di pikiran harus menjadi sentral perhatian. Konten positif akan menghasilkan output positif dan konten negatif akan menghasilkan output negatif.

Dengan demikian berhati-hatilah… kemampuan dan kecepatan pikiran dalam mengolah konten sungguh sangat luar biasa. Oleh karenanya jangan membiarkan pikiran dengan liarnya mengolah konten tanpa ada kontrol yang seimbang. Seringkali kita meliarkan pikiran kita atau dengan kata lain seringkali kita tidak mempedulikan konten apa yang sedang diolah oleh pikiran kita. Bahkan seringkali kita tidak melakukan proses identifikasi sama sekali terhadap konten yang sedang diolah oleh pikiran. Kita hanya membiarkan dan justru menuruti konten apa saja yang sedang berkecamuk di pikiran kita. 

Sebagai contoh, cermatilah kisah hidup seseorang yang bernama Aldo…

Di hari minggu yang cerah Aldo bersama istrinya sedang berada di kamarnya. Kebetulan Aldo terbangun terlebih dahulu dibanding istrinya. Padahal biasanya Aldo bangun belakangan. Dan biasanya saat Aldo terbangun… kopi kesukaannya sudah diolah oleh istrinya dan selalu tersedia di meja dekat tempat tidur. Namun sayangnya minggu kali ini sangat berbeda… Aldo bangun lebih awal. Setelah menyelesaikan hajat di kamar mandi, Aldo melihat meja kecil dimana biasanya sudah tersedia kopi hangat nan menggoda. Sekilas lirik tak ada secangkir kopi yang selama ini memanjakannya saat baru bangun tidur. 

Aldo membatin (pikiran Aldo) berkata-kata: Whealah belom ada kopi… Lalu Aldopun melirik sang istri yang mulutnya masih setengah terbuka. 

PA (pikiran Also) terus bermanuver: yach… bojo masih ngencees ! Wah cilaka ini… ya sudahlah aku main HP dulu… untung hari minggu.

Aldopun main HP… setengah jam kemudian Aldo kembali melirik istrinya.

PA : Ya ampun lelap banget sih… waduch gawat nich… kapan tersedia kopi-nya donk ? Huh… terpaksa harus main HP lagi dech… Mulut Aldopun manyun mengikuti alur pikirannya.

1,5 jam pun lewat… istrinya bergerak merubah posisi tidurnya…

PA : Asyiiiik… mulai bangun! Namun istrinya terlelap lagi karena terdengar dengkuran halus. 

PA : Wheladalah… ngaco nich bojo. Apa dia nggak nyadar pa ya… kopi suaminya belom tersedia ! (padahal istrinya memang belum nyadar…). Memang ini hari minggu… cuma sampai kapan aku harus ngiler menahan keinginan ngopi … ! Whew… Terpaksa main HP lagi dech… (Gigi Aldopun bergemeretak kecil). 

30 menit lagi berlalu…. Aldo kembali melirik istrinya.

PA : Yeaaah… blom juga bangun. Mulut Aldopun berdehem kenceng: Ehm… Ehm… Ehm. Dilanjutkan dengan suara batuk-batuk : Ehem… Ehukhuk… Ehom..hom..hom…Ehuk-huk-huk… Lalu matanya melirik ke istri. Ternyata sang istri tetap terdiam dengan mulut tetap terganga.

PA : Yealah budeg juga nich bojo ya… (Aldo sudah mulai tidak tertarik main HP… HPnya hanya di putar-putar ke segala arah dengan ekspresi mulut yang semakin manyun)

30 menit lagi berlalu…. dan istrinya masih diam di tempatnya. Aldopun melirik kemballi ke istrinya.

PA : OMG… sepertinya sengaja nich bojo. Sengaja tidak melayaniku. Aku dah cape-cape cari duit.. Eee.. nggak diperhatikan. Sampai hati kali bojo membiarkan diriku berjam-jam tidak ngopi. Whuaaah…ini nggak bisa dibiarkan..! 

Kebetean si Aldopun semakin menjadi-jadi………..

Bila kondisi yang dialami Aldo terus berlanjut hingga beberapa waktu kemudian dan konten pikiran Aldo terus bermuatan negatif… apa yang selanjutnya akan terjadi ? Bagaimanakah kira-kira ekspresi wajah Aldo, apakah ekspresi mukanya enak dilihat dan penuh senyuman ataukah ekspresi berkerut penuh amarah ? Dan bila istrinya terbangun, apa kira-kira yang akan terjadi? Akan muncul suasana yang tegang bukan? 

Apabila konten negatif yang ada dipikiran Aldo terus berkembang dan liar… bisa dipastikan Aldo akan meluncurkan berbagai kata amarah secara bertubu-tubi.  Semakin liar konten negatif di pikiran Aldo maka persoalan yang muncul akan semakin panjang dan bisa-bisa persoalan yang dimunculkan tidak hanya berfokus soal kopi namun akan merembet ke berbagai persoalan lainnya. Dan bila….  konten yang ada dipikiran istri Aldo sama sekali tidak bisa menerima protes dan kemarahan Aldo dan juga dipenuhi oleh berbagai konten negatif yang sama liarnya maka terjadilah perang baratayudha di hari minggu nan cerah tersebut.

Aldo sebetulnya sadar akan konten yang ada di pikirannya. Namun Aldo tidak segera berusaha melakukan re-direksi atas apa yang berkembang di alam pikirannya. Coba kalau di awal-awal si Aldo melakukan re-direksi ke arah yang positif…. dengan ilustrasi sebagai berikut….:

PA : Whealah belom ada kopi… Lalu Aldopun melirik sang istri yang mulutnya masih setengah terbuka. 

PA (pikiran Aldo) terus berlanjut: yach… bojo masih ngencees ! Wah sungguh cilaka ini… tapi yaaa.. sudahlah aku main HP dulu… untung ini hari minggu. 

Aldo melirik kembali ke istrinya…..

PA : Betapa cantiknya istriku saat mulutnya terbuka… sepertinya bojo kecapean… Cilakaaa…ah nggak-lah... kan cuma bikin kopi aja… biarlah aku nanti bikin kopi sendiri… sekali-kali nggak apa-apa. Setengan jam lagi bila belum bangun, aku akan bikin kopi sendiri aja dach. Kurekam dulu ach wajah nan cantik yang lagi pules….

Bila Aldo berhasil me-redireksi seperti diatas.. dan konten yang berkembang di pikiran Aldo terus bermuatan positif maka bisa dipastikan suasana di hari minggu tersebut akan tetap cerah dan penuh kebahagiaan. 

Aldo tidaklah sendirian. Semua orang mengalami sebagaimana yang dialami oleh Aldo. Sayangnya, kebanyakan orang sangat membuka diri dan bahkan melakukan pembiaran terhadap permainan konten negatif yang ada dipikirannya. Mereka tidak berupaya melakukan re-direksi terhadap konten negatif yang sedang bermain-main di pikirannya. 

Berhati-hatilah. Nyaman atau tidak nyaman, suka ataupun duka, ceria ataupun tidak ceria, bahagia ataupun tidak bahagia, gampang ataupun susah hidup kita sangat tergantung pada konten apa yang sedang berkecamuk di pikiran kita. Agar bisa menikmati hidup dengan baik, kita harus terus mengasah kemampuan re-direksi pikiran kita. Apalagi di zaman sekarang dimana provokasi konten negatif bertebaran dimana-mana dengan sangat intens, kemampuan re-direksi pikiran kita harus semakin ditingkatkan.

Konten apa yang saat ini dominan ada di pikiranmu sobat ? Sudahkan sobat lakukan upaya re-direksi jika konten tersebut dominan bermuatan negatif ? Ataukah sobat memang lagi senang meliarkan konten pikiran negatif tersebut ? Bagaimanakah kualitas kehidupan sobat bila sobat terus menerus melakukan pembiaran atas konten negatif tersebut ? 

 



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.