Kehilangan anak buah

<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0); background-color: rgb(255, 255, 255);"><span style="-webkit-font-kerning: none;"><font face="Verdana">Saya memiliki anak buah yang sangat jago jualan. Jujur saja saya sangat bersyukur memiliki anak buah seperti dirinya. Target tim sangat sering terbantu berkat kepiawaian dia dalam melakukan penjualan. Dia memiliki kontribusi yang besar dalam total angka penjualan tim. Dan dengan demikian, yang bersangkutanpun otomatis memiliki bagian target penjualan yang cukup besar dibanding anggota tim lainnya. Hebatnya lagi, dia tidak pernah mengeluh tentang pembagian target penjualan tersebut. Dan yang luar biasa adalah… dia selalu mampu menutupi target penjualan yang menjadi bagiannya… bahkan lebih sering angka jualannya melebihi target sehingga bisa menutup target yang dibebankan ke tim.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0); background-color: rgb(255, 255, 255);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Namun kebahagiaan dan kebanggaan saya hanyalah terjadi tidak berapa lama. Anggota tim tersebut beberapa bulan lalu mengajukan surat pengunduran diri. Saya sudah berusaha membujuknya supaya tetap berada di tim saya namun upaya saya sia-sia belaka. Dan lebih cilaka lagi, banyak konsumen kami juga ikut pindah bersama dirinya. Pencapaian penjualan kami menjadi timpang dan berantakan.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0); background-color: rgb(255, 255, 255);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Apa yang seharusnya saya lakukan dalam kondisi tersebut?</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0); background-color: rgb(255, 255, 255);"><span style="-webkit-font-kerning: none;"><font face="Verdana">Terima kasih - Gemal Lalu</font></span></p>

Saya memiliki anak buah yang sangat jago jualan. Jujur saja saya sangat bersyukur memiliki anak buah seperti dirinya. Target tim sangat sering terbantu berkat kepiawaian dia dalam melakukan penjualan. Dia memiliki kontribusi yang besar dalam total angka penjualan tim. Dan dengan demikian, yang bersangkutanpun otomatis memiliki bagian target penjualan yang cukup besar dibanding anggota tim lainnya. Hebatnya lagi, dia tidak pernah mengeluh tentang pembagian target penjualan tersebut. Dan yang luar biasa adalah… dia selalu mampu menutupi target penjualan yang menjadi bagiannya… bahkan lebih sering angka jualannya melebihi target sehingga bisa menutup target yang dibebankan ke tim.

Namun kebahagiaan dan kebanggaan saya hanyalah terjadi tidak berapa lama. Anggota tim tersebut beberapa bulan lalu mengajukan surat pengunduran diri. Saya sudah berusaha membujuknya supaya tetap berada di tim saya namun upaya saya sia-sia belaka. Dan lebih cilaka lagi, banyak konsumen kami juga ikut pindah bersama dirinya. Pencapaian penjualan kami menjadi timpang dan berantakan.

Apa yang seharusnya saya lakukan dalam kondisi tersebut?

Terima kasih - Gemal Lalu




Ulasan Pembaca


Pengirim: George Rifai | Tanggal: 2018-12-07

Siapa yang tak senang memiliki anak buah yang berkinerja tinggi? Semua atasan pasti mendambakan anak buah berkinerja tinggi bukan? Namun demikian dalam dunia penjualan, memiliki anak buah berkinerja tinggi juga memiliki resiko sebagaimana yang dialami oleh anda. 

Oleh karena itu resiko tersebut harus dikelola dengan baik karena bila tidak terkelola dengan baik maka resiko terberat yang terjadi adalah berpindahnya anak buah tersebut diikuti dengan berpindahnya konsumen karena ditarik oleh dirinya. Bila konsumen yang ikut pindah bukanlah konsumen pareto maka tentunya hal ini tidak terlalu berpengaruh terhadap total penjualan tim yang anda pimpin. Namun bila konsumen yang ikut pindah bersama dirinya adalah konsumen pareto…wow… tentunya efeknya akan berat. Total penjualan tim akan sangat terpengaruh bahkan menjadi berantakan sebagaimana yang terjadi pada diri anda.

Agar total penjualan tidak berantakan maka sebaiknya saat menjadi pemimpin sebuah tim penjualan, segeralah melakukan pemetaan kinerja dan kompetensi anak buah…. Dan akan jauh lebih bagus lagi jika sang pemimpin sudah berbekal peta kompetensi dan kinerja anak buah sebelum bergabung ke tim yang akan dipimpinnya. Darimana bekal tersebut? Tentunya saat ditunjuk sebagai pemimpin maka sang pemimpin harus bertanya ke atasan langsungnya atau atasan dari atasan langsung ataupun mencari dari sumber lainnya tentang peta kompetensi dan kinerja yang akan menjadi anggota-anggota timnya. Pemetaan ini penting agar sang pemimpin memiliki pendekatan yang tepat dan proporsional bagi masing-masing anggota tim-nya. Peta ini sekaligus akan mempermudah pemimpin untuk menentukan prioritas tindakan dan lain sebagainya. 

Dari pemetaan tersebut, sang pemimpin akan tahu siapa-siapa saja anak buah yang berkategori jagoan, sedikit jagoan, rata-rata, dan sekaligus yang dibawah rata-rata… bahkan anak buah yang berkategori marjinalpun akan tahu. Pembahasan tentang bagaimana melakukan  pemetaan kompetensi dan kinerja yang bagus ada di e-book Pengelolaan dan Pengembangan Diri, untuk mendapatkannya silahkan berinvestasi sebagaimana yang tersebut di laman web ini.

Kembali ke anak buah yang berkinerja bagus atau sebut saja sebagai anak buah jagoan. Dalam dunia penjualan, kesalahan yang sering dilakukan pemimpin terhadap anak buah tersebut adalah melakukan pembiaran. Pembiaran yang saya maksud disini adalah tidak terlalu memberikan perhatian pada yang bersangkutan. 

Biarlah dirinya yang mengelola konsumennya… saya (sang pemimpin) tidak perlu ikut campur, toh selama ini konsumen-konsumen yang ada pasti sudah terkelola dengan baik. Biarlah dirinya bekerja sebagai biasanya… saya (sang pemimpin) tidak perlu tahu apa yang dilakukannya, toh selama ini dia telah memberikan hasil yang bagus. Biarlah dia mengurus dirinya sendir… saya sebagai sang pemimpin tak perlu ikut campur, toh dia memang sudah jagoan. Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk pembiaran yang lainnya. Berbagai pembiaran tersebut dilakukan sang pemimpin karena sang pemimpin telah dipenuhi asumsi bahwa yang bersangkutan sudah mampu mengelola dirinya sendiri dan mampu mengelola apa yang menjadi tanggung jawabnya. 

Pembiaran-pembiaran ini akan menjauhkan sang pemimpin dari anak buah yang jagoan tersebut. Sekaligus pembiaran-pembiaran ini membuat pengetahuan sang pemimpin menjadi minim terutama pengetahuan yang berkaitan dengan anak buah itu sendiri, teritori wilayah kerja anak buah, serta dinamika kompetisi dan konsumennya. Pembiaran ini, pada titik tertentu akan mengakibatkan keterkejutan terutama disaat anak buah tersebut memutuskan pindah dan tidak lagi bersama tim, sebagaimana yang anda alami.

Oleh karena itu jangan sekali-kali melakukan pembiaran… segera pahami dan pelajari hal-hal yang berkaitan dengan anak buah yang berkinerja bagus. Dalam kasus anda, segera ikut berkunjung ke konsumen-konsumen pareto yang ada di wilayah kerja anak buah yang jagoan tersebut. Secara personal, segera bangun relasi dengan konsumen-konsumen pareto yang berada di wilayah kerja anak buah yang jago tersebut. Bila anda sebagai pemimpin berhasil membangun relasi yang bagus dengan konsumen pareto maka konsumen pareto tersebut tentunya akan memiliki kesan khusus pada anda. Kesan khusus ini derajatnya bisa jadi sama dengan kesan khusus  yang disematkan pada anak buah anda yang jagoan tersebut. Atau barangkali derajat kesan khususnya melebihi daripada yang disematkan ke anak buah anda yang jagoan tersebut. Kalaupun derajat kesan khususnya tidaklah sama maka paling tidak konsumen pareto memiliki kesan yang baik terhadap anda sebagai pemimpin. 

Kesan baik dan kesan khusus tersebut akan menjadi benteng yang bisa mencegah konsumen bermigrasi ke lain hati walaupun diajak oleh mantan penjual jagoan anda. Semakin tinggi derajat kesan khusunya maka benteng konsumen tentunya akan semakin tebal. 

Dengan kata lain, agar konsumen tidak mudah pindah mengikuti berpindahnya penjual jagoan anda maka lakukan apa yang saya sebut sebagai buffering relationship. Pembuat buffer yang baik adalah sang pemimpin itu sendiri namun bila sang pemimpin tidak memiliki cukup waktu membangun relasi maka sang pemimpin harus meng-evaluasi apakah ada sumber buffer yang berbeda…misal apakah ada orang internal dari tim anda atau yang berasal dari luar tim anda namun yang bersangkutan pernah memiliki relasi yang bagus dengan konsumen-konsumen tersebut? Manfaatkan mereka agar bisa meredam minat migrasi konsumen karena berpindahnya penjual jagoan anda. 

Demikian dan selamat membangun apa yang saya sebut sebagai buffering relationship


Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.